Kisapmata: Kedipan Mata, Homesick dan Perspektif Baru Tentang Musik
Kisapmata: Kedipan Mata, Homesick dan Perspektif Baru Tentang Musik https://jesandy.com/wp-content/uploads/2013/04/rivermaya-kisapmata.jpg 256 256 Jesandy Krisano https://jesandy.com/wp-content/uploads/2013/04/rivermaya-kisapmata.jpg
Kisapmata, salah satu kata Tagalog pertama yang saya tahu artinya: kedipan mata. Berangkat dari rasa suka pada sebuah lagu berbahasa ibu Filipina dengan judul kata yang sama, ternyata telah mengubah cara pandang saya tentang musik.
Tidak ada alasan khusus sebenarnya, hanya dari kecil, dimana-mana yang diputar – selain lagu Indonesia – paling musik-musik barat, terutama dari Amerika atau mungkin Inggris.
Kalaupun ada lagu Asia, paling-paling dari Jepang, itu pun hanya beberapa.
Saya memang bukan tipe orang yang terlalu mengikuti musik.
Hanya suka yang mudah untuk dinyanyikan, nga pernah memperhatikan liriknya, atau lagu ngehits di radio sudah lebih dari cukup, itu pun kadang tidak hafal judulnya
Masa Bertahan (Survival Mode)
Sampai saya melanjukan kuliah di Inggris.
2010-2011
Seorang mahasiswa baru, canggung, sulit adaptasi
Masih bingung dengan bahasa Inggrisnya orang lokal yang cepat sekali.
Juga dengan makanannya yang flat, minim rempah, dan kadang seperti dimasak sekedarnya.
Di masa awal, orang Indonesia di perantauan biasanya mencari teman yang… yah, senasib.
Dari negara tetangga.
Yang paling sering ditemui Malaysia, Filipina, Thailand.
Karena gesture dan bahasa kita mirip-mirip.
Atau paling tidak, jokes kita dengan English (versi memaksa), bisa membuat kita sama-sama terpingkal.
Kami sering hang-out setelah jam kuliah, apalagi matahari terlambat tenggelam kalau summer. Pub atau dinner jadi tujuan utama.
Sambil minum bir.
Bercerita tentang negara masing-masing, dan entah gimana lagu dan musik sering menjadi bahasan.
Dari situ saya mulai sering memutar musik di kamar, musik ternyata efektif mengurangi efek homesick.
Jadi kalau rindu Indonesia; Teknologi di 2010: sangat terbatas, musik adalah salah satu yang tersisa
Mau pakai apa?
Tidak ada WhatsApp, apalagi video call.
Ada SMS, tapi bayar.
Telepon? Juga bayar.
Mahal lagi!!
Kisapmata dan Awal Perkenalan
Suatu malam.
Di satu pub kecil dekat asrama, khas orang scouse.
Suara customer lokal tertawa keras di sudut lain, dan seperti biasa dengan music box menyanyikan lagu top 40s era itu..
Di meja kami, Sol, seorang teman Pinoy (panggilan untuk netizen Filipina) memutar lagu dari cd-walkman, atau saya lupa devicenya apa.
Sebuah Lagu Tagalog.
“Kisapmata”
Saya tidak mengerti.
Tapi melodinya… enak didengar.
Dijelaskan lagu itu tentang cinta yang hilang secepat kedipan mata.
Cukup mengena, ternyata seperti lagu-lagu Indo sering mengangkat romantisme ala-ala picisan
Manggut-manggut.
Sama sekali nga paham.
Tapi lagu ini cukup membekas di telinga.
Setelah itu saya mulai mendengar lagu-lagu Tagalog lainnya.
Hafal beberapa baris, selalu sempatkan tanya arti lirik, biar lebih mudah untuk menghafal satu lagu.
Ketika minum di lain hari atau sekedar nongkrong di kamar, mulai nyanyi sama-sama
Mulai pamer, saya lead singernya ho ho..
Mereka menyukai, entah, atau kasihan..
Berasa seperti artis lokal. Ibarat ada orang dari negara lain nyanyi lagu “Dan” by Sheila On 7 tanpa teks dan menjiwai.
Bagi si empunya lagu asal-negara, pasti ada ada rasa geli, tapi pasti ada haru juga..
Lalu di kemudian hari, Shaq namanya, teman Malay memutar lagu Tagalog yang lain.
“Inuman Na dari Parokya Ni Edgar”
Dia sebenarnya lebih dulu menjadi mahasiswa disana dan yang lebih dulu suka lagu Tagalog.
Cukup kaget. Orang Malaysia bisa suka lagu Filipina.
Ternyata memang begitu.
Di kalangan kawula muda Asia Tenggara pada masa itu, musik tidak selalu harus berkiblat ke Amerika atau Inggris.
Hasilnya: Inuman Na beda dengan Kisapmata.
Inuman Na riang, Parokya, sang band, lebih berjiwa anak tongkrongan, mungkin vibenya seperti Project Pop kalau di Indo
Lagu ini ceritanya agak laen
Tentang minum-minum bersama teman.
Tentang melupakan masalah untuk sementara.
Tentang kebersamaan yang tidak perlu dijelaskan.
Lebih mengena..
Sampai saya dengar berkali-kali
Bukan cuma soal lagu, ada sisi emosional di lagu ini
Sampai sekarang, Inuman Na mengingatkan saya pada malam-malam ceria, hura, kura…
Saat di mana saya mulai mengenal budaya “cheers“.
Saat di mana tertawa tipsy
Saat di mana rindu kampung halaman jadi hilang karena ada orang lain merasakan hal yang sama.
Musik, Bahasa, Koneksi, Emosi
Dan ada satu titik, ketika muncul asumsi sederhana:
“Ternyta tidak semua negara punya “kekuatan” yang sama dalam musik terutama sisi talenta dan kapabilitas serta industrinya itu sendiri.”
Indonesia, sudah punya standar yang cukup kuat. Kita punya banyak penyanyi dan band dengan kualitas yang solid. bahkan sampai detik ini..
Setidaknya jika dibandingkan dengan Malaysia.
Ada beberapa lagu yang cukup dikenal di Indonesia kala itu. Lagu seperti “Isabella” Ami Search atau karya-karya dari Siti Nurhaliza cukup dikenal. Tapi di luar itu, agak kurang terdengar.
Lalu muncul rasa penasaran yang lain.
Kenapa lagu Filipina, Kisapmata, Inuman Na tidak terkenal di Indonesia?
Mungkin karena bahasa.
Tagalog.
Orang Indonesia tidak mengerti.
Padahal kalau didengar, dialeknya mirip dengan bahasa kita.
Tapi tetap saja, orang enggan mencerna kalau tidak mengerti.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi…
K-Pop juga pakai bahasa mereka sendiri.
Kita juga tidak mengerti.
Tapi tetap bisa diterima..
Jadi mungkin bukan hanya soal bahasa.
Tapi soal bagaimana sebuah negara membangun ekosistem musiknya.
Dan di situ, Filipina sebenarnya punya potensi besar.
Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti lagu-lagu Tagalog akan sering diputar di radio Indonesia.
Bairpun ada keraguan bagaimana masyarakat Filipina lebih menomorsatukan Bahasa Inggris dibanding bahasa ibunya sendiri
Tapi kita akan bahas itu lain waktu, dan yang saya tahu: sejak malam itu, cara pandang saya berubah soal musik.
Sama seperti banyak hal lain sebenarnya.
Orang tidak selalu connect karena paham.
Tapi karena merasa.
Tagalog misalnya.
Kalau didengar sekilas, ada “nuansa” yang terasa cukup dekat dengan budaya Indonesia. Tidak sama, tapi familiar. Sepertinya terjadi faktor asimilasi bahasa, bisa jadi portugis atau spanyol. Irama pada lagu Kisapmata atau Inuman Na tidak terasa asing apalagi ketika coba dinyanyikan.
Mungkin itu juga yang membuat lagu-lagu mereka terasa lebih mudah diterima.
Dan mungkin juga…
memang begitu cara banyak hal bekerja.
Yang awalnya terasa asing,
pelan-pelan jadi bagian dari cerita kita.
PS:
Untuk teman-temanku seperjuangan masa itu, kudoakan sehat sukses selalu, lahir batin untuk kalian.. terimakasih untuk lagu-lagunya, terimakasih untuk memorinya
To my comrades from that chapter of our lives, I pray for your continued health and success always, in every way. Thank you for the songs, Thank you for the memories.